Biarkan Kritik (ikut) Membangun Kota

Salah satu sudut kota di Kota Bandung

Salah satu sudut kota di Kota Bandung

Tak ada sesiapa yang merasa tak beruntung dapat tinggal di kota senyaman dan semenyenangkan Kota Bandung. Di mana-mana taman terhampar memberi ruang terbuka di antara bangunan-bangunan baru yang mengaku sebagai bagian dari perubahan demi memenuhi hasrat kita sebagai manusia. Kota di mana setiap (kurang lebih) satu bulan sekali, akan kita temukan tren fashion baru, yang sesegera mungkin mengisi stok tiap toko penyedia sandang di sudut jalan.

Gerakan yang aktif serta inovatif dari pemuda, yang mampu menjadikan banyak komunitas lama maupun baru, berkembang menjadi salah satu pionir perubahan dan pengingat masyarakat awam. Tak perlu disebutkan apa saja, karena sudah pasti akan menghabiskan beratus-ratus kertas A4 80 gram bila semua dituliskan.

Dan entah mengapa, saya rasa kehadiran sosok berdurasi lima tahun yang baru di kota ini membuat semuanya begitu terbuka. Begitu menyenangkan. Komunitas tumbuh subur dengan dukungan sana-sini, ide-ide mentah yang selama ini sekarat dalam pikiran mampu mencuat dan memunculkan harapan bagi si pemilik. Dalam waktu senggang, seorang kerabatdengan polosnya mengatakan, “setengah penduduk kota ini, hari ini adalah pedagang”. Mungkin dia sok tahu. Atau mungkin dia merasa begitu terbukanya kondisi saat ini, hingga dijadikan sebagai ruang isolasi bagi pemikiran mentah kita yang sebelumnya tak memiliki arti. Dan berdagang, dalam bentuk dan kemasan apa pun, adalah solusi.

Semua begitu menyenangkan. Tercipta suatu kebebasan. Terasah diri untuk menghasil sebuah penemuan.

Tapi ketika setiap dari kita mulai menyadarinya, sesuatu yang semestinya kita kritisi justru luput dari sorotan. Memang, kilatan yang menyilaukan kadang mampu membuyarkan pandangan. Masih adakah razia ketersediaan tempat sampah pada kendaraan mobil di jalanan? Apakah denda uang masih dituntut kepada pedagang kaki lima pelanggar zona merah, atau sudah beralih kepada perokok yang merokok di kawasan terlarang di Alun-alun Bandung? Apa tindakan Pak Wali terhadap pedagang di sekitar Jalan Diponegoro yang hanya cukup memarkir kendaraan, membuka pintu belakang lalu menjajakan barang dagang? Samakah mereka dengan pedagang kaki lima yang menurut beberapa pihak dianggap mengganggu? Padahal beberapa kali terjadi sendatan kendaraan akibat proses jual-beli yang terjadi. Pedagang di mana-mana, produksi meningkat, buangan ikut juga, meningkatkan angka timbulan sampah kota. Ah, mungkin saya terlalu mempekerjakan otak untuk memikirkan remah-remah permasalahan kota.

Sering memang saya menemukan orang-orang yang kritis terhadap hal-hal yang tadi disebutkan, banyaknya melalui kicauan. Sayang, orang-orang yang kadung merasa nyaman akan kondisi kota ini malah melakukan pembelaan, dan seringnya dengan kalimat “di dinya geus mere naon keur Bandung?”. Saya pikir, sebuah kritikan yang ditujukan bagi kota ini sudah termasuk pada suatu tindakan yang bermanfaat. “Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan kerbau,” kukutip dari mendiang Soe Hok Gie. Kita, “murid-murid” yang punya hak untuk menghindarkan kondisi zona nyaman melalui kritikan.

Belakangan ini, rasanya sedang gencar kritikus yang bergerak dalam ranah media sosial Line, sehingga linimasa menjadi penuh akan deretan opini. Sayang, gerakan ini belum dilakukan secara substansif dan masif, sehingga belum terasa dampak nyata serta masih ramai sanggahan orang-orang. Bahkan rasanya kritikus ini tumbuh dalam kondisi etiolasi. Terlalu cepat untuk mempublikasikan apa yang dia rasakan. Ah, entahlah, saya hanya merasa bahwa kota ini mengalami peningkatan jumlah aktivis, namun sedikit yang terang-terangan kritis. Mungkin karena kita belum membiarkan kritik untuk ikut serta membangun kota.

Catatan: Mohon maaf apabila ada pihak yang tidak berkenan, penulis hanya menuangkan keresahan diri semata.

Teks & Foto: Pandu Arjasa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s